Jumat, 08 April 2011

Warga Nagekeo Harus Pertahankan Identitas Budaya


ZAMAN terus berubah. Karakter dan cirri  khas budaya di setiap daerah pun berada di ambang kehancuran oleh karena masuknya nilai-nilai dan spirit budaya asing melalui berbagai sarana informatika. Supaya tidak tergilas dan tidak terpinggirkan oleh arus globalisasi yang perkembangan semakin pesat ini, maka orang nomor satu di Kabupaten Nagekeo mengingatkan warganya untuk mempertahankan identitas budaya di masing-masing daerah. Ajakan itu terlontar dari mulut Bupati Nagekeo, Drs. Yohanis Samping Aoh, saat berkunjung dan bertatap  muka dengan masyarakat di di seluruh kecamatan dalam wilayah Kabupaten Nagekeo. Sekedar tahu saja, Bupati Nagekeo sejak akhir bulan Oktober hingga bulan November lalu, bersama para pejabat eksekutif melakukan kunjungan kerja sekaligus bertatap muka dengan warganya untuk mendengar secara langsung aspirasi masyarakat di setiap wilayah kecamatan. Dalam setiap kunjungannya, ia selalu disambut dengan aneka tarian budaya dan bhea sa sebagai cirri khas orang Nagekeo menyambut tambu yang dihormatinya. Wilayah-wilayah yang dikunjungi adalah Kecamatan Aesesa, Aesesa Selatan, Nangaroro, Boawae, Wolowae, Keo Tengah dan Mauponggo.
“Kendatipun selama ini saya telah beberapa kali berkunjung diantaranya dalam rangka safari pendidikan, safari PNPM dan menghadiri berbagai undangan lainnya, namun, hari ini secara khusus saya melakukan kunjungan kerja ke kecamatan yang boleh juga sekaligus merupakan silahturahmi kekeluargaan karena dihadiri juga isteri saya Ny. Mastiur Magdalena Panggabean yang baru saya nikahinya pada bulan Oktober lalu di Jakarta, “ujarnya.
Kehadiran isterinya tersebut, kata Bupati Nani Aoh, untuk bisa mengenal lebih dekat dengan seluruh keluarga besar di lingkungan pemerintah maupun di lingkungan masyarakat yang merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisah-pisahkan.
Bupati Nagekeo pada kesempatan tersebut juga menyampaikan sejumlah pokok pikiran terkait pelaksanaan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan. Sejumlah pokok pikiran yang disampaikannya untuk menyamakan persepsi guna menggerakan roda pemerintahan dan berbagai kegiatan pembangunan serta pemberdayaan masyarakat ke depan. Pokok pikiran pertama yang disampaikan Bupati Nagekeo kala itu adalah terkait dengan kondisi masyarakat yang dinamis di era globalisasi. Menurut Bupati Nagekeo, dewasa ini kita sedang berhadapan dengan dinamika dan perubahan sosial yang dipicu oleh perubahan nilai, pergeseran budaya dengan percepatan perubahan yang demikian signifikan. Kondisi sosial kemasyarakatan sedang terus berubah secara cepat. Tidaklah mengherankan kalau Bupati Nagekeo menyebut abad ini sebagai era teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat diakses melalui media elektronik seperti TV, internet, handphone dan instrument teknologi lainnya telah menihilkan ruang dan waktu yang sedemikian rupa sehingga dunia saat ini hanya bagaikan sebuah desa global. Seluruh penjuru dunia, kata Bupati Nani Aoh, hanya dapat diakses dalam waktu yang demikian singkat. Apa yang terjadi di dunia luar begitu cepat diketahui dan juga diadopsi nilai dan spiritnya. Ada perubahan positif bisa kita nikmati seperti efisiensi dan efektifitas kerja. Namun, adopsi nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kultur kita bisa mengakibatkan banyak orang kehilangan jati dirinya, juga kehilangan spirit budayanya. Dalam banyak hal terlihat menggejala dalam perilaku sosial masyarakat kita. Tanda-tandanya sudah terlihat dalam hal perilaku anak-anak yang semakin memudar rasa hormatnya terhadap mereka yang lebih tua atau yang dituakan. Tingginya angka kriminalitas, nafsu untuk berpesta pora hanya sekedar untuk gengsi-gengsian tanpa mempedulikan kemampuan dan kekuatan ekonomi keluarga. Di samping itu, ada juga kecendrungan masyarakat saat ini mulai mengingkari komitmen-komitmen baiknya di masa lalu dan menukarkan berbagai jasa baik di masa lalu sebagai sebuah keuntungan secara ekonomi tanpa rasa risih dan juga tanpa rasa sesal. Hal lain yang juga terlihat adalah sikap negatifisme yang selalu menonjolkan kecendrungan berperilaku negative seperti konsumsi narkoba, terorisme, anarkisme, premanisme dan radikalisme. Kondisi ini, kata Bupati Nagekeo, hanya bisa diantisipasi, dicegah dan dihindari manakala adanya niat dan kiat untuk meningkatkan ;profesionalitas dan kualitas diri melalui bangku pendidikan dan juga pembinaan mental spiritual melalui penumbuh-kembangan iman dan taqwa pada Tuhan. Tanpa adanya kapasitas intelektualitas untuk eksis di era modern ini maka kita hanya akan menjadi penonton yang bukan tidak mungkin hanya menunggu waktu untuk tergilas dan terpinggirkan oleh kekejaman zaman. Guna menemukan berbagai solusi bagi berbagai problema social dimaksud, kata Bupati Nagekeo, maka pemerintah telah merumuskan visi dan misi Kabupaten Nagekeo. Visi Pemerintah Kabupaten Nagekeo adalah “terwujudnya masyarakat Nagekeo yang sejahtera berdasarkan rasa kebersamaan dan solidaritas yang tinggi, berkeadilan, demokratis dan berkelanjutan”. Makna substantive dari visi tersebut, jelas Bupati Nagekeo, bahwa keadaan masyarakat Nagekeo yang ingin dicapai dalam periode lima tahun ke depan adalah kesejahteraan berdasarkan rasa kebersamaan dan tingkat solidaritas yang tinggi dalam komunitas masyarakat Nagekeo yang bernilai keadilan melalui proses pengelolaan sumberdaya dan manajemen pemerintahan yang demokratis dan berkelanjutan. Rasa kebersamaan dan solidaritas yang tinggi sendiri merupakan kata kunci dari konsepsi visi di atas. Konsepsi tersebut merupakan cipta dan karsa yang berbasis persepsi sebagai dasar tindakan atau perilaku yang pada gilirannya tereksplisit sebagai entitas cultural. Terminologi “cipta, rasa dan karsa”, pada intinya berarti masyarakat Nagekeo dituntut untuk memiliki daya dan kemampuan untuk menciptakan kebersamaan dan solidaritas memprakarsai kebersamaan dan solidaritas serta mewujudkan rasa kebersamaan dan solidaritas. Abstraksi dan kristalisasi atas spirit tersebut secara praksis dikonkritkan dengan ‘kreatif’. Dengan kata lain, menjadikan Nagekeo sebagai kabupaten yang kreatif. Maksudnya adalah masyarakat yang memiliki daya cipta, kreatifitas dan inovasi untuk melakukan berbagai terobosan baru yang bersifat konstruktif.
Untuk melaksanakan visi tersebut, pada tatap muka dengan masyarakat Boawae, Bupati Nagekeo juga memaparkan tujuh agenda utama dari misi Kabupaten Nagekeo. Pertama, mewujudkan kekuatan sumber daya masyarakat dalam semangat kebersamaan dan solidaritas yang tinggi dengan member ruang partisipasi bagi seluruh komponen masyarakat dalam proses pembangunan. Kedua, mewujudkan sumber daya pemerintahan dan pelayanan yang berkeadilan berdasarkan prinsip kepemerintahan yang baik dan bersih (good governance and clean government) serta mengarahkan orientasi kepemimpinan pada rakyat dan peran birokrasi sebagai pelayan public yang memiliki etos kerja yang tinggi. Ketiga, mewujudkan supermasi hukum dan hak asasi manusia sebagai paying dari kehidupan bersama demi terwujudnya kehidupan bersama yang aman, harmonis dan damai. Keempat, mewujudkan peran swasta sebagai kekuatan penggerak perubahan, mendorong partisipasi perempuan dan generasi muda serta elemen-elemen public lain yang strategis untuk berkolaborasi dan bersinergis dengan pemerintahan dalam melaksanakan pembangunan dengan prioritas utama pada terpenuhnya kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan serta tersedianya lapangan kerja dalam interelasi yang suportif dan konstruktif. Kelima, mewujudkan pengelolaan sumber daya alam yang tersedia secara seimbang dan berkelanjutan dalam kerangka tata ruang wilayah dan konservasi lingkungan (rehabilitasi, pengendalian dan pelestarian) bagi terciptanya mutu lingkungan (keseimbangan antara daya tamping lahan dan daya dukung lingkungan) bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Nagekeo.
Keenam, mewujudkan pembangunan sarana dan prasarana dasar (infrastruktur) yang diorientasikan pada pemenuhan kebutuhan layanan civil dan layanan public kepada masyarakat yang berkeadilan dan berkelanjutan berbasis tata ruang. Ketujuh, memelihara dan menjamin terwujudnya ketahanan masyarakat yang tertib dan aman sebagai modal social (social capital) dalam pembangunan serta terwujudnya stabilitas daerah dan terselenggaranya fungsi pelayanan, pemberdayaan dan pembangunan daerah. Dari keseluruhan rancangan dan desain makro visi dan misi yang membingkai seluruh perencanaan dan aplikasi kerja, Bupati Nagekeo, saat itu menjelaskan hal-hal yang bersentuhan dan beraksentuasi khusus antara lain di bidang pendidikan, bidang konservasi dan pelestarian lingkungan hidup, bidang pertanian dan ketahanan pangan, bidang pemberdayaan masyarakat desa, bidang kesehatan, bidang ketentraman dan ketertiban dan bidang sosial budaya. Dalam kunjungannya kali ini, Bupati Nani Aoh ditemani oleh sejumlah pejabat daerah dan pejabat legislatif. Para pejabat eksekutif itu antara lain Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Setda Nagekeo, Drs. Imanuel Ndoen, M.Si, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Dra. Yuliana Lamry, M.Pd, serta sejumlah pejabat lainnya. Seperti biasanya, dalam setiap kunjungan kerja, Bupati Nagekeo selalu disambut secara adat yang ditandai dengan tari-tarian dan bhea sa. Selain menyampaikan arah kebijakan umum pembangunan, Bupati Nani Aoh juga berdialog dan mendengarkan aspirasi masyarakat desa. è sil nusa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar